in ,

17 Keterampilan Sosial yang Harus Dimiliki agar Banyak Koneksi

Keterampilan Sosial Agar Banyak Koneksi – Di dalam kehidupan bersosial, kita secara alamiah akan belajar bagaimana bersikap dan merespon kejadian. Sebagai contoh, ketika bertemu dengan seseorang yang dikenal, maka secara reflek kita akan menyapa dan menanyakan kabarnya. Begitupun ketika ngobrol dengan seseorang tetapi responnya tidak aktif, maka kita bisa menganggap bahwa ia sedang tidak mood untuk bercerita. Hal-hal inilah yang disebut keterampilan sosial atau social skill.

Baca juga: Relationship Anxiety: Alasan Mengapa Hubungan Terasa Tidak Menyenangkan

17 Keterampilan Sosial Agar Banyak Koneksi

Selain dua contoh di atas, masih ada banyak keterampilan sosial lainnya. Dari sekian banyaknya keterampilan sosial tersebut, berikut adalah 17 diantaranya yang harus dimiliki agar interaksimu dengan orang lain terasa lebih hangat dan akrab.

1. Melakukan Kontak Mata

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.1.jpg

Dalam suatu obrolan antara dua orang atau lebih, kontak mata (eye contact) akan meningkatkan rasa dekat dan hangat dalam obrolan tersebut. Hal ini lantaran setiap kontak mata yang dilakukan menunjukkan perhatian dan rasa hormat terhadap lawan bicara. Bandingkan jika ketika kamu berbicara tetapi orang lain justru melihat layar handphonenya, tentu kamu akan merasa tidak dihargai. Jadi, biasakan untuk selalu melihat wajah lawan bicara kita, ya. 

2. Menyapa Namanya

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.2.jpg

Kamu pasti sering mengunjungi toko, cafe, atau rumah makan yang sama. Hal ini artinya membuatmu akan bertemu dengan pelayan yang sama. Mulai sekarang, cobalah berkenalan dan ketahui namanya agar selanjutnya kamu bisa menyapa mereka dengan nama, bukan hanya sekedar ‘mbak’ atau ‘mas’. Meskipun kamu mungkin tidak berencana membangun hubungan sosial dengan mereka di luar tempat kerja mereka, namun hal-hal baik seperti ini pasti akan sangat bermanfaat, setidaknya membuat mereka merasa dihargai.

3. Meminta Maaf dengan Tulus

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.3.jpg

Seringkali, seseorang meminta maaf namun dengan berbagai pembelaan seolah yang ia lakukan adalah wajar. Akhirnya permintaan maaf itu terasa hanya seperti basa-basi. Inilah mengapa kemampuan meminta maaf dengan tulus merupakan suatu keterampilan sosial yang juga harus dimiliki. Cobalah untuk meminta maaf dari hati dan dengan kesadaran penuh bahwa kamu memang salah dan patut minta maaf.

4. Bertanya Selama Percakapan

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.4.jpg

Ketika kamu melakukan obrolan dengan seseorang, respon tidak hanya soal kamu menjawab pertanyaannya. Cara menghargai lawan bicara juga adalah dengan memberikan pertanyaan. Interaksi seperti ini menunjukkan bahwa kamu mendengarkan dan tertarik dengan perbincangan tersebut.

5. Tetap Tenang saat Marah

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.5.jpg

Saat tengah berinteraksi sosial, kita pasti pernah marah atau kecewa atas sikap lawan bicara. Bersikap defensif melalui respon emosional atau marah bukanlah hal bijak untuk dilakukan apalagi jika di tempat umum. Cobalah untuk menahan diri dan menarik nafas panjang selagi terus menenangkan hati dan pikiran. Jika dirasa tidak mampu untuk menahan amarah, segeralah izin untuk pergi meninggalkan obrolan.

6. Memberikan Kesan Pertama yang Baik

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.6.jpg

Kesan pertama (first impression) sangat berpengaruh terhadap kelanjutan interaksi sosial saat itu dan di kemudian hari. Seperti yang dikemukakan oleh Jessica Small, MA, seorang Terapis Keluarga menyebutkan bahwa ketika bertemu seseorang pertama kalinya, penting untuk tersenyum, melalukan kontak mata yang cukup, berjabat tangan, dan menyapanya dengan nama.

7. Membaca Bahasa Tubuh

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.7.jpg

Orang tidak akan selalu mengungkapkan apa yang dirasakannya secara eksplisit. Jadi, sangat penting pula untuk bisa membaca bahasa tubuh dan memberikan respon akan apa yang kita perkirakan. Sebagai contoh ketika kita berbicara tetapi lawan bicara mulai terlihat resah dan sibuk melihat-lihat sudut ruangan, maka itu bisa menjadi tanda bahwa ia ingin mengakhiri pembicaraan.

8. Sampaikan Rasa Khawatir

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.8.jpg

Keterampilan sosial satu ini sebenarnya sederhana tetapi seringkali juga terasa sulit. Ya, menyampaikan bahwa kamu khawatir akan kondisi seseorang memang tidak semudah itu. Padahal banyak diantara kita yang sebenarnya dalam kondisi tidak baik-baik saja tetapi segan untuk menyampaikan. Oleh karena itu, tak masalah untuk menanyakan kabarnya dan menyampaikan kekhawatiran dengan cara tidak menghakiminya melalui pernyataan-pernyataan pribadi.

Baca juga: Bosan dengan Bunga dan Coklat? Berikut 15 Ide Hadiah Anniversary untuk Pasangan

9. Memperkenalkan Diri Lebih Dulu

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.9.jpg

Mungkin akan terasa tidak nyaman ketika harus mengenalkan diri kepada orang asing. Namun dalam kondisi sosial yang tepat seperti dalam seminar, forum bisnis, atau sebagainya, maka memperkenalkan diri terlebih dahulu bukanlah suatu kesalahan. Justru hal ini penting untuk membuka koneksi pertemanan yang lebih luas.

10. Menangani Konflik

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.10.jpg

Keterampilan untuk bisa menangani konflik dengan tepat sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Sebelumnya, coba pahami dirimu sendiri dengan memastikan bahwa kamu tidak berperilaku pasif, agresif, tertutup, atau mudah tersinggung. Jika kamu memiliki karakter tersebut, mulailah untuk berlatih menahan diri karena sebelum menangani konflik dari luar, kamu harus bisa menjaga konflik emosi terlebih dahulu.

11. Mendengarkan Tanpa Menggurui

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.11.jpg

Ketika mendengarkan keluhan atau curhatan orang lain, kita pasti sangat tergoda untuk memberikan nasihat. Tapi ketahuilah bahwa menahan diri untuk tidak berkomentar adalah suatu keterampilan sosial yang baik. Seringkali seseorang bercerita hanya untuk mengeluarkan keluh kesahnya. Ia mungkin tidak ingin mendengar nasihat menggurui karena sejatinya dia sudah bisa memikirkannya sendiri atau memang sedang tidak ingin memikirkannya.

12. Bertanggung Jawab atas Perasaan Sendiri

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.12.jpg

Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk selalu memenuhi ekspektasi kita sendiri. Tetapi, yang bisa kita lakukan adalah mengontrol perasaan diri sendiri. Sebagai contoh, ketika kamu mengadakan janji makan dengan seseorang, lalu seseorang itu telat. Alih-alih marah karena kamu sudah terlanjur lapar untuk menunggunya, lebih baik kamu memesan makanan lain dahulu untuk mengganjal perut.

13. Menawarkan Pelukan

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.13.jpg

Ketika kamu melihat teman dekatmu bersedih, jangan ragu untuk menawarkan pelukan. Pelukan adalah bentuk empati, solidaritas, sekaligus memberikan rasa nyaman pada seseorang. Namun tentunya kamu harus bisa menyesuaikan kondisi, karena kalau bukan teman dekat maka akan dianggap tidak sopan oleh sebagian orang, terutama dalam budaya Indonesia.

14. Menyikapi Penolakan

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.14.jpg

Setiap kita pasti tidak ingin ditolak. Tidak hanya soal cinta, tetapi penolakan atas apapun yang kita tawarkan. Namun dalam berkehidupan sosial, penolakan pasti akan terjadi. Oleh karena itu, penting untuk bisa bersikap tenang ketika ditolak meskipun dalam diri sangat kecewa.

15. Menyampaikan Apa yang Dirasakan

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.15.jpg

Menyampaikan perasaan, seperti tidak suka, tidak nyaman, malu, atau sebagainya masih dianggap kurang lumrah. Padahal hal-hal seperti ini penting sebagai bentuk keterbukaan. Jangan sampai karena kita tidak mengatakannya, kita merasa kesal sendiri karena orang lain tidak menyadarinya. Padahal tidak semua orang bisa paham sesuatu yang tidak diungkapkan.

16. Menyampaikan Pendapat dengan Baik

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.16.jpg

Ketika menyampaikan suatu pendapat, kita biasanya cenderung ingin mengajak orang lain menyetujui pandangan kita tersebut. Padahal yang paling bijak adalah dengan mendengarkan pendapat orang lain juga tanpa menghakimi pendapat tersebut. Menyampaikan argumen tanpa berusaha mengubah pikiran orang lain adalah cara yan paling mungkin untuk mencapai kompromi.

17. Memberi Tanpa Harap Kembali

C:\Users\USER\Documents\sribulencer\68.Anita 20 artikel\15.17.jpg

Keikhlasan nampaknya begitu mudah diucapkan tapi seringkali tidak semudah itu dilakukan. Seringkali ketika kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, terpikir bahwa mungkin di waktu lain dia akan berbuat yang baik pula. Jika perasaan seperti ini masih sering muncul, cobalah untuk menguranginya. Bertindaklah tanpa harus berekspektasi apa-apa agar interaksi sosial yang kita lakukan lebih jujur.