in

Beberapa Cara Keliru untuk Menyelesaikan Konflik Tapi Sering Dilakukan

Cara Keliru Menyelesaikan Konflik — Di dalam kehidupan, kita tentu tak ingin ada masalah atau konflik. Tetapi kenyataannya, konflik itu pasti akan ada dan tak mungkin dihindari. Banyak orang yang mengatakan bahwa komunikasi menjadi kunci untuk menyelesaikan konflik. Namun sayangnya, kita suka tak menyadari bahwa komunikasi yang coba kita buat justru memperburuk konflik tersebut.

Seperti beberapa hal berikut. Sering kali hal-hal ini dilakukan untuk menyelesaikan konflik dengan seseorang, namun justru keliru karena bisa memperburuk keadaan. Apakah kamu juga kerap melakukannya?

Cara Keliru Menyelesaikan Konflik

1. Menghindari Konflik

Alih-alih berdiskusi dan ngobrol tentang apa yang dirasakan, kebanyakan orang justru memilih tidak mengatakan apa pun. Hal ini sering dipilih untuk menghindari perdebatan namun justru menjadi tekanan batin. Jika dibiarkan, akhirnya muncul perdebatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Jadi, akan jauh lebih sehat untuk menghadapi konflik tersebut dengan menyampaikan perasaan diri tanpa mengurangi rasa hormat pada orang lain.

2. Menjadi Defensif

Mempertahankan argumen dan pandangan pribadi atau dengan kata lain tidak ingin kalah menjadi cara yang sering tak disadari ketika berkonflik dengan seseorang. Tindakan defensif seperti ini harus kamu sadari sebelum memulai komunikasi.

Baca Juga: Jangan Biarkan Rasa Bersalah Membuatmu Terpuruk, Coba 4 Tips Ampuh Ini!

Jika rasa benar sendiri ini dipertahankan, mungkin memang masalah bisa terselesaikan namun itu hanya dalam waktu pendek. Kedepannya, mungkin akan menjadi bom waktu yang akan menimbulkan konflik lebih besar.

3. Men-generalisasi Kondisi

‘Kamu selalu…’ atau ‘kamu tidak pernah…’ adalah contoh kata yang harus dihindari ketika berusaha menyelesaikan konflik. Kata-kata itu adalah bentuk generalisasi perilaku seseorang. Jangan membuat seseorang menjadi terlihat selalu salah karena akan menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Ini justru menimbulkan kenangan negatif yang akan selalu diingat dan mungkin akan diungkit kembali di kemudian hari. Jadi, fokuslah pada masalah yang kamu ingin selesaikan dan tak perlu di generalisasi.

4. Memposisikan Diri Jadi yang Benar

Kamu mungkin merasa yakin bahwa argumenmu yang paling benar. Tapi itu bukan hal bijak untuk disampaikan hingga membuat orang lain merasa berada di posisi yang salah. Jangan menuntut seseorang untuk melihat dari sudut pandangmu.

Jangan pula menyerang seseorang yang punya pandangan berbeda. Ingat bahwa tujuanmu berbicara adalah untuk berkompromi menyelesaikan masalah, bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

5. Seolah Bisa Membaca Pikiran

Pernahkan kamu berpikir bahwa kamu bisa memahami apa yang ada di pikiran lawan bicara? Ya, itu boleh saja tetapi sebaiknya dihindari untuk dinyatakan. Apa yang kamu anggap sebagai pikiran seseorang itu hanyalah sebuah interpretasi yang bisa membuat jarak. Alih-alih menyelesaikan masalah, orang lain justru akan merasa tidak dihargai pendapatnya.

6. Lupa untuk Mendengarkan

Beberapa orang suka menyela, memalingkan mata, hingga berlagak cuek ketika orang lain menyampaikan sesuatu. Hal ini harus dihindari ketika kamu melakukan komunikasi dalam menyelesaikan konflik. Jangan remehkan orang lain dengan membuka diri untuk menganggap penting pendapat mereka. Hal ini sering kali tidak disadari, maka sebaiknya kamu harus mulai membiasakan.

7. Menyalahkan

Disadari atau tidak, kita kerap kali menangani konflik dengan cara mengkritik dan menyalahkan orang lain atas masalah tersebut. Lebih parah, beberapa orang justru melakukan pembenaran diri dan mencoba untuk mempermalukan seterunya.

Baca Juga: Gagal Itu Nggak Salah, Ini 7 Pelajaran Berharga tentang Kegagalan di Usia 20-an yang Harus Kamu Tahu

Hal ini tentu saja salah dan peluang menyelesaikan konflik justru semakin sulit. Cobalah memandang konflik secara objektif dan menilai kebutuhan dari kedua belah pihak.

8. Mencoba untuk Memenangkan Argumen

Berkaitan dengan perilaku tidak mau kalah, upaya untuk memenangkan argumen juga bukan cara sehat menyelesaikan masalah. Inti dari diskusi atau komunikasi adalah saling mengerti dan mencapai kesepakatan. Jadi, jangan berpikir untuk menjadi pemenang.

9. Menyerang Karakter

Alih-alih menyampaikan pendapat, kita justru seringkali menyerang pribadi atau karakter seseorang. Sebagai contoh jika kamu tidak suka pasanganmu meletakkan kaos kaki sembarangan, jangan melabelinya dengan seseorang yang pemalas atau tidak pengertian.

Masalah yang kamu hadapi adalah soal kaos kaki yang sembarangan, bukan berarti dia harus dianggap pemalas. Ingatlah untuk menghormati orang lain sekalipun kamu tidak suka perilakunya.

10. Memberi Dinding Pembatas

Ketika seseorang ingin berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah, jangan justru membuat dinding pembatas atau menolak. Ini akan membuat seseorang merasa tidak dihargai. Hormati upaya orang lain dan cobalah untuk membuka diri. Akan jauh lebih baik untuk mendengarkan dan berdiskusi dari pada membiarkan konflik terpendam.